Entri Populer

Senin, 02 Januari 2012

deskripsi kehidupan


Aku terlahir sebagai anak seorang penggembala. Di tengah ramainya orang-orang yang sibuk mencari pekerjaan yang menjanjikan, namun aku sangat bangga dengan profesiku ini. Setiap harinya aku dedikasikan dengan menggembala kerbau kesayanganku. Aku duduk di punggung kerbau besarku. Dengan aksesoris lengkap, sebuah seruling bambu dan seikat tali tambang yang kulingkarkan di leherku. Seperti itulah keseharianku dalam menjalani hidup.

Sampai suatu hari, ketika aku tengah asyik menggembalakan hewan ternakku satu-satunya. Datang seekor harimau kelaparan yang berlari ke arahku, dengan nada suaranya yang khas, dia mengaum membuatku takut. Tanpa pikir panjang lagi aku melompat dari punggung kerbau yang sudah lajim aku lakukan, seraya berlari sekencang-kencangnya.

Diselimuti ketakutan yang tak ada tandingannya, aku berusaha mencari tempat perlindungan. Padahal sang predator tidaklah mengejarku, tapi mengejar binatang peliharaanku. Namun karena aku terlampau takut sehingga tak berani menengok ke belakang dan tak tahu kalau dia tidak mengejarku.

Aku terus berlari tanpa henti hingga aku tak tahu aku berada di mana. Sesampainya di hutan rimba dengan sungai besar yang kini berada di hadapanku. ku lemparkan tali tambang yang kubawa ke ranting pohon, dan mencoba bergelantung seperti tarzan. Tadinya kupikir ini bisa mengantarkanku menyebrangi sungai yang sebenarnya terdapat buaya-buaya lapar siap memangsa tanpa aku ketahui. Namun karena tali yang kupakai terlalu pendek, akhirnya aku tak bisa menyebrangi sungai ini, dan aku kini telah bergelantungan di atas sungai tanpa bisa kemana-mana.

Sial memang nasibku, tambang yang kupegang ternyata terus digigiti seekor hamster putih dan seekor tikus hitam. Sementara itu, buaya-buaya lapar terus menampakan kebuasannya dengan menengadahkan kepalanya menunggu saat-saat aku terjatuh dan masuk ke dalam mulutnya.

Semakin lama tali yang terus digeranyangi dua ekor binatang tak tahu diri itu kian menipis dan rapuh. Hingga akupun terjatuh dan masuk ke mulut buaya lapar.

Seperti itulah kiasan hidup di dunia ini. Kerbau hitam menganalogikan harta yang manusia tak ingin dan tak bisa lepas darinya, setiap hari harta itu dipelukki. Sedangkan harimau mengisyaratkan nafsu yang senantiasa terus berupaya mengejar harta. Tambang menunjukan jatah umur yang diberikan allah kepada kita, dan semakin hari semakin habis dimakan malam dan siang yang diperankan oleh hamster putih dan tikus hitam. Sampai akhirnya kita memasuki transisi kehidupan dunia menuju akhirat, yaitu alam kubur. Dan buaya bertindak sebagai aktornya.

Kita ditutut untuk bisa mengendalikan nafsu, jika ingin mati dengan cara yang benar. Banyak orang yang celaka lantaran nafsunya sendiri. Sebagai penutup…Tanpa disadari perjalanan hidup kita sebenarnya adalah menuju pada kematian. Dia telah menunggu kita di depan sana. Siapkah kita….

2 komentar:

Fahmi Faneja mengatakan...

nice post...
analogi kehidupan yang bagus dan tepat...

wawan kuswana mengatakan...

@Fahmi Faneja:terlihat kehidupan ini sangat mudah mudah saja di jalani, tetapi ternyata tidak semudah yang kita bayangkan,,, ada kalanya kita harus menikmati suka duka ini

sponsor besar

About Me

Foto Saya
wawan kuswana
ciamis, jawa barat, Indonesia
pundamental dalam agama liberal dalam berfikir. kesendirian adalah warna dalam jiwaku dan emosi kebencian adalah motivasi dan semangat untuk maju. konflik adalah sarana untuku lebih maju dan merancang dunia
Lihat profil lengkapku